Posts

Showing posts with the label cerita anak

Mak Comblang

Oleh: Adriana Andang Gitasari Hari itu hari minggu. Namun pagi-pagi sekali muka mama sudah terlihat kesal. Papa juga demikian. Rupanya papa dan mama habis bertengkar. Benny sudah terbiasa dengan hal itu. Karena tidak lama setelah bertengkar mereka akan berbaikan lagi. Namun kali ini tidak. Papa dan mama terus diam. Mereka bahkan tidak berbicara sama sekali sewaktu sarapan. Benny heran. Padahal hari itu mereka sudah janji mengajak Benny jalan-jalan ke kebun binatang. Karena takut, ia tidak berani menanyakan soal rencana jalan-jalan itu. Benny lama-lama merasa sedih. Ia sangat ingin pergi ke kebun binatang bersama orangtuanya. Namun yang membuat lebih sedih lagi, papa dan mama malah bertengkar. Ia berpikir bagaimana caranya agar mereka berbaikan? Benny pun mendapat ide. Ia mengambil beberapa kertas. Ia mulai menulis. “Mama, maafin papa ya. Papa sayang mama” begitu bunyi tulisan di kertas yang pertama. Ia mengambil satu buah kertas lagi. Ia menulis lagi. “Papa, maafin mama ya. Mama say...

Kata Kakak

Oleh: Adriana Andang Gitasari “Ayo bangun sayang, sarapan,” Mama membangunkan Devi. Perlahan Devi membuka matanya. “Oh iya, kamu tak perlu ke sekolah hari ini,” tambah Mama. “Apa?!” Devi sangat terkejut. Ia bangun dari tempat tidurnya. “Kata siapa ma? Kemarin tidak ada pengumuman libur kok,” Devi tidak percaya. “Iya, tapi tadi pagi-pagi sekali wali kelasmu menelepon katanya...” “Apa katanya?” Devi menyela perkataan mama. “Katanya sekolah rusak parah akibat hujan dan angin kencang semalam,” ujar mama. Seketika wajah Devi berubah. Ia sedih tidak bisa pergi ke sekolah. Akhir-akhir ini ia sedang bersemangat belajar. Melihat wajah muram Devi, mama lalu mengajaknya sarapan. Setelah sarapan, Devi terus berdiri di dekat jendela. Di luar masih saja turun hujan dan angin bertiup sangat kencang. Memang sejak tadi malam cuaca buruk belum berakhir. Huh, kenapa sih harus turun hujan segala? Pikir Devi dalam hati. Ia merasa bosan hanya berdiam diri di rumah. “Dev, kenapa kamu tidak bermain saja den...

Kado Valentine

“Dino, kamu mau ngasih kado siapa besok hari valentine?” tanya Jeri membuyarkan lamunan Dino. “Oh, valentine? Aku tidak tahu. Lagian selama ini aku tidak pernah merayakannya.” Jawab Dino datar. “Kalau aku sih, mau ngasih Tata coklat, hehehe”. Jeri tertawa kecil. “Dasar kamu ini kecil-kecil udah mulai pacaran ya.” Dino meledek Jeri. “Ngaco kamu. Tata kan kemarin sudah menolongku waktu terjatuh dari sepeda. Aku cuma ingin berterima kasih,” sanggah Jeri. Tak lama kemudian bel berbunyi. Mereka pun masuk kelas. Sepulang sekolah, Dino bermalas-malasan di rumah. Ia terus menonton televisi. Sampai ia tidak sadar orangtuanya sudah pulang. “Lho, mama kapan pulang?” tanya Dino. “Dasar kamu, mama sudah pulang daritadi lho.” Dino tetap saja menonton televisi. Mama yang memperhatikan kelakuan Dino menjadi jengkel. “Dino! Cepat mandi, lalu makan. Jangan lupa kerjakan PR ya,” seru Mama. Bukannya menuruti perkataan Mama, Dino malah asyik bermain game di komputer. “Lho kamu itu gimana sih, ayo...” seb...

Gigi Oh Gigi

Suatu pagi, setelah selesai sarapan, Gigi bergegas menggosok giginya. “Gigi! Ayo cepat! Nanti terlambat sayang,” seru ayah memanggil Gigi. Ibu pun datang memeriksa Gigi. Namun ketika ibu menghampiri Gigi, tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam kamar mandi. “Aduuuh!” Gigi berteriak sejadi-jadinya. “Ada apa sih? Kenapa kamu berteriak?” tanya ibu keheranan. “Aduh ibu, gigiku copot. Bagaimana ini bu...” Gigi pun menangis. “Sini coba ibu lihat.” Ibu Gigi lalu memeriksanya. Ternyata gigi seri bagian atas Gigi tanggal dan kini ia terlihat ompong. Gigi memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ibu terus membujuknya, tetapi ia tidak menghiraukannya. Ia merasa malu gigi depannya ompong. Ia juga takut jika terjadi apa-apa dengan giginya. Ia berpikiran bagaimana jika nanti giginya selamanya akan ompong? Tak heran jika ia menjadi seperti itu. Gigi, seperti namanya, selama ini selalu rajin merawat giginya. Ia tidak pernah mengenal yang namanya sakit gigi. Ini pertama kalinya giginya tanggal. Kemurunga...

Kiko dan Sumpit Ajaib

“Maak! Kenapa tiap hari kita hanya makan nasi dan sayur labu?” kata Kiko setengah berteriak kepada emak. “Kiko... Kau seharusnya bersyukur masih bisa makan. Memang hanya ala kadarnya nak. Sudah, ayo cepat sarapan dan setelah itu kamu cari kayu bakar di hutan ya,” jawab emak. “Tapi mak....” Ia tidak melanjutkan perkataannya. Sepanjang perjalanan ke hutan, ia terus menggerutu. Ia bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja. Sehari-hari emak hanya berjualan labu hasil berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oleh sebab itulah mereka hidup serba sederhana. Sampai di hutan Kiko segera mencari kayu. Tidak terasa sudah satu jam lamanya. Ia merasa lelah. Kiko beristirahat di bawah pohon. Tiba-tiba sebuah benda jatuh mengenai kepalanya. Ternyata sebuah kayu kecil panjang mirip sumpit. “Ups, ini kan memang sumpit! Kenapa bisa ada benda ini disini?” Kiko memeriksa pohon. Tidak ada siapapun. Kiko lalu iseng-iseng menggunakan sumpit itu untuk menyantap bekal makan siangnya. Ajaib! Bekal nas...