Posts

Showing posts with the label fiksi

Cerita Pendek Sekali : Surat untuk Peter

Peter, Kamu pria yang baik. Kamu cerdas. Kamu bisa meraih segalanya dengan kemampuan yang kamu punyai. Sementara aku tidak, Peter. Aku tidak. Aku tidak sepertimu. Aku tak mahir dalam segala hal. Kecuali satu. Aku mahir beromong kosong. Aku mahir dalam hal itu. Sangat mahir. Seperti yang kamu lihat Peter. Aku tidak punya masa depan. Aku hanya punya masa lalu. Aku tak pernah berani menuju masa depan. Aku tidak bisa membuatnya. Aku hidup di masa lalu. Sudah kukatakan tadi. Masa lalu. Peter, Aku tidak punya apa-apa. Masih adakah yang kau harapkan padaku? Mungkin ada, mungkin. Tapi aku tak bisa menjanjikan harapan-harapan itu jadi kenyataan, Peter. Yang aku berikan hanya omong kosong. Ingat kan, Peter? Kau habiskan waktumu dengan omong kosongku. Selama ini. Kau tentu tidak mau, Peter. Kau tidak mau menghabiskan seluruh sisa hidupmu denganku. Kau tidak mau menikahi omong kosongku. Jangan, Peter. Jangan. Peter, Aku mohon... Jangan! --- Kuletakkan surat...

Mak Comblang

Oleh: Adriana Andang Gitasari Hari itu hari minggu. Namun pagi-pagi sekali muka mama sudah terlihat kesal. Papa juga demikian. Rupanya papa dan mama habis bertengkar. Benny sudah terbiasa dengan hal itu. Karena tidak lama setelah bertengkar mereka akan berbaikan lagi. Namun kali ini tidak. Papa dan mama terus diam. Mereka bahkan tidak berbicara sama sekali sewaktu sarapan. Benny heran. Padahal hari itu mereka sudah janji mengajak Benny jalan-jalan ke kebun binatang. Karena takut, ia tidak berani menanyakan soal rencana jalan-jalan itu. Benny lama-lama merasa sedih. Ia sangat ingin pergi ke kebun binatang bersama orangtuanya. Namun yang membuat lebih sedih lagi, papa dan mama malah bertengkar. Ia berpikir bagaimana caranya agar mereka berbaikan? Benny pun mendapat ide. Ia mengambil beberapa kertas. Ia mulai menulis. “Mama, maafin papa ya. Papa sayang mama” begitu bunyi tulisan di kertas yang pertama. Ia mengambil satu buah kertas lagi. Ia menulis lagi. “Papa, maafin mama ya. Mama say...

Jangan Ada Guling Di Antara Kita

Aku senang melihatmu mengantuk lalu lama kelamaan tertidur. Aku senang melihatmu tidur pulas setelah berhari-hari bekerja. Aku senang melihat matamu yang sedikit membuka. Aku senang melihatmu sedikit mendengkur. Aku senang melihatmu berganti-ganti posisi tidur. Miring, terlentang, tengkurap. Aku senang melihatmu sesekali terbangun karena terusik oleh tingkahku, lalu tidur lagi. Aku senang menikmati wajahmu. Aku senang memperhatikan tidurmu. Aku senang. Namun aku tidak senang! Aku tidak senang jika di sampingmu tergeletak guling. Aku tidak senang melihatmu memeluk guling. Aku tidak senang! Maka tolong, jangan ada guling di antara kita!

Mbak Yuni, “Usaha”, dan “Surrender"

Aku terbangun dari tidurku. Sekitar pukul 3 dini hari, rasa ingin buang air kecil memaksaku harus beranjak dari tempat tidur. Sekembalinya dari WC, aku terjaga. Sepertinya aku sudah tidur lama tadi. Hei, tunggu. Hari ini Mbak Yuni datang. Iya, datang. Setelah Mbak Mei, giliran dia yang datang berkunjung. Ya, berkunjung. Karena kedatangannya hanya akan terasa secepat kilat lalu pergi berganti mbak-mbak yang lain lagi. Ia benar-benar datang kali ini. Aku menatapnya. Mukanya tampak datar. Entah cerita apa yang ingin dia bagi. Bagi? Bersama dengan raut muka yang sepertinya tidak mau membocorkan rahasia, tampaknya Mbak Yuni akan menutup mulutnya rapat-rapat. Baiklah, saya tunggu saja apa yang akan dia lakukan. Aku menyilakan Mbak Yuni untuk duduk di atas kasurku. Dia tetap diam. Namun ada hal yang membuatku terus bertanya-tanya dalam hati. Benda apa yang dibawanya itu? Sebuah kotak berwarna hitam mengkilat. Oh, koper ternyata. Ia tampak menyembunyikan koper itu. Aku benar-benar dibuatnya pe...

Kata Kakak

Oleh: Adriana Andang Gitasari “Ayo bangun sayang, sarapan,” Mama membangunkan Devi. Perlahan Devi membuka matanya. “Oh iya, kamu tak perlu ke sekolah hari ini,” tambah Mama. “Apa?!” Devi sangat terkejut. Ia bangun dari tempat tidurnya. “Kata siapa ma? Kemarin tidak ada pengumuman libur kok,” Devi tidak percaya. “Iya, tapi tadi pagi-pagi sekali wali kelasmu menelepon katanya...” “Apa katanya?” Devi menyela perkataan mama. “Katanya sekolah rusak parah akibat hujan dan angin kencang semalam,” ujar mama. Seketika wajah Devi berubah. Ia sedih tidak bisa pergi ke sekolah. Akhir-akhir ini ia sedang bersemangat belajar. Melihat wajah muram Devi, mama lalu mengajaknya sarapan. Setelah sarapan, Devi terus berdiri di dekat jendela. Di luar masih saja turun hujan dan angin bertiup sangat kencang. Memang sejak tadi malam cuaca buruk belum berakhir. Huh, kenapa sih harus turun hujan segala? Pikir Devi dalam hati. Ia merasa bosan hanya berdiam diri di rumah. “Dev, kenapa kamu tidak bermain saja den...

Kado Valentine

“Dino, kamu mau ngasih kado siapa besok hari valentine?” tanya Jeri membuyarkan lamunan Dino. “Oh, valentine? Aku tidak tahu. Lagian selama ini aku tidak pernah merayakannya.” Jawab Dino datar. “Kalau aku sih, mau ngasih Tata coklat, hehehe”. Jeri tertawa kecil. “Dasar kamu ini kecil-kecil udah mulai pacaran ya.” Dino meledek Jeri. “Ngaco kamu. Tata kan kemarin sudah menolongku waktu terjatuh dari sepeda. Aku cuma ingin berterima kasih,” sanggah Jeri. Tak lama kemudian bel berbunyi. Mereka pun masuk kelas. Sepulang sekolah, Dino bermalas-malasan di rumah. Ia terus menonton televisi. Sampai ia tidak sadar orangtuanya sudah pulang. “Lho, mama kapan pulang?” tanya Dino. “Dasar kamu, mama sudah pulang daritadi lho.” Dino tetap saja menonton televisi. Mama yang memperhatikan kelakuan Dino menjadi jengkel. “Dino! Cepat mandi, lalu makan. Jangan lupa kerjakan PR ya,” seru Mama. Bukannya menuruti perkataan Mama, Dino malah asyik bermain game di komputer. “Lho kamu itu gimana sih, ayo...” seb...

Hei, kiddo

Hei kiddo, sudah lama aku tidak menulismu. Karena beberapa waktu yang lalu ada seseorang mengatakan padaku bahwa menulis blog dan isinya terkesan curahan hati bukanlah ajang latihan menulis yang bagus -itu pesan yang aku tangkap darinya-. Hei kiddo, it's a blog. It's my own blog. Aku bisa menulis apapun yang saya mau bukan?

Lamunan Tera

Aku ingin memakai sebuah gaun sederhana saja di hari itu. Dress berwarna putih susu tanpa lengan. Sedikit aksen di bagian dada. Mengembung di bagian bawah. Rambut terurai dan hanya terhiasi topi kecil cantik khas para bangsawan inggris. Satu hal paling penting adalah tanpas riasan di wajah! Aku ingin berjalan dengan penuh keyakinan menuju altar bersama seorang laki-laki di sebelahku. Laki-laki tulen yang tidak akan pernah menyesal di kemudian hari. Tidak akan pernah menyesal di kemudian hari, di suatu pagi mendapatiku terbaring dengan muka penuh iler . Ia harus memakai setelah jas hitam yang fit di badannya. Of course . Sepatu, bukan pantofel tapi chuck taylor all star . Aku ingin berjalan bersamanya. Terlihat di kursi paling depan dua bapak dan dua ibu tersenyum lebar. Aku ingin dua bapak dan dua ibu yang tidak akan pernah menyesal pula. Mendapati anaknya tak lagi serumah di kemudian hari. Aku ingin segera sampai di sana. Disaksikan handai taulan dan mantan kekasihku dan ma...

Kiko dan Sumpit Ajaib

“Maak! Kenapa tiap hari kita hanya makan nasi dan sayur labu?” kata Kiko setengah berteriak kepada emak. “Kiko... Kau seharusnya bersyukur masih bisa makan. Memang hanya ala kadarnya nak. Sudah, ayo cepat sarapan dan setelah itu kamu cari kayu bakar di hutan ya,” jawab emak. “Tapi mak....” Ia tidak melanjutkan perkataannya. Sepanjang perjalanan ke hutan, ia terus menggerutu. Ia bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja. Sehari-hari emak hanya berjualan labu hasil berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oleh sebab itulah mereka hidup serba sederhana. Sampai di hutan Kiko segera mencari kayu. Tidak terasa sudah satu jam lamanya. Ia merasa lelah. Kiko beristirahat di bawah pohon. Tiba-tiba sebuah benda jatuh mengenai kepalanya. Ternyata sebuah kayu kecil panjang mirip sumpit. “Ups, ini kan memang sumpit! Kenapa bisa ada benda ini disini?” Kiko memeriksa pohon. Tidak ada siapapun. Kiko lalu iseng-iseng menggunakan sumpit itu untuk menyantap bekal makan siangnya. Ajaib! Bekal nas...

Maafkan Jito, Kek

Siang itu Pak Bun bersiap membunyikan lonceng. Ya, Pak Bun adalah penjaga sekolah SD Tunas Bangsa yang baru. Anak-anak lebih akrab memanggilnya Pak Bun, kependekan dari Pak Tukang Kebun. Sebenarnya nama asli pria paruh baya itu ialah Yanto. “Teng…teng…teng.” Suara nyaring lonceng tua itu terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Tandanya waktu belajar di sekolah telah usai. Teriak anak-anak pun terdengar riuh menyambut datangnya bunyi bel itu. Pak bun hanya menggeleng. Tak lama kemudian anak-anak berhamburan keluar kelas. “Selamat siang Pak Bun! Besok mukul loncengnya cepat-cepat ya, biar aku bisa cepat pulang,” sapa Didi dengan riangnya. “Huss kamu ini! Pak Bun kan cuma menuruti perintah Pak Kepala Sekolah,” tukas Anjar. “Ah… .” Sebelum Didi selesai bicara, Pak Bun malah balik bertanya. “Kalian kok hanya berdua? Jito mana?” tanyanya. Anjar dan Didi hanya menggelengkan kepala. “Biasanya kami emang pulang bertiga Pak, tapi akhir-akhir ini Jito sering menyendiri di perpustakaan. Dia eng...

Aku Masih Memakai Rok

Tidak. Aku tidak sedang tidur. Aku sedang dalam perjalananku ke sekolah. Ya, sekolah. Yang kutahu, sekolah adalah tempat dimana aku dipaksa orangtuaku untuk kukunjungi setiap hari. Kecuali hari minggu. Dan setiap aku pulang dari sana, banyak hal yang harus terpaksa kuingat. Cukup. Lupakan semua itu, mungkin terlalu buruk bayanganku tentang sekolah. Tunggu. Jalan ini tidak seperti jalan biasanya. Jalan menuju ke sekolahku tidak seramai ini. Hanya ada beberapa pedagang buah di kanan jalan yang sehari-hari berjualan. Kenapa semua orang berdiri memenuhi ruas jalan? Apakah akan ada karnaval hari ini? Tidak. Tidak ada siapapun di belakangku. Tidak ada petugas keamanan. Tidak ada mobil-mobil berhiaskan pita warna-warni. Tidak ada para badut yang dengan konyolnya menakut-nakuti anak-anak. Tidak ada sorak sorai. Tidak ada! Oh tidak! Tidak ada semua itu. Hanya aku, sendirian. Akulah karnaval itu. Lah apa-apaan ini? Tunggu. Mereka memandangiku dengan tatapan yang sama ketika ibu m...