Posts

Sementara

(sementara) hidup di Jakarta, aku banyak belajar. Aku belajar menjaga kepercayaan orang tua. Ah...sudahlah. Aku belajar waspada. Aku belajar hidup mandiri. Secara finansial. Aku belajar membaca rambu-rambu lalu lintas dan penunjuk jalan. Aku belajar menghafal trayek angkutan umum, seperti metromini dan kopaja. Aku belajar menghemat uang. Ah tidak. Aku selalu gagal mempelajarinya. Aku belajar berteman dengan orang baru. Ini susah. Aku belajar tidak mempercayai begitu saja omongan orang. Apakah ini disebut pelajaran? Aku belajar menghadapi orang-orang ‘bertopeng’ setiap harinya. Aku belajar. Aku belajar menulis lagi.

Terima Kasih 31 Hari Menulis

Ini adalah hari ke-31 program 31 Hari Menulis 2013 buatan anak Komunikasi UGM. Mulai besok tak akan lagi menulis blog dengan label #31HariMenulis. Walaupun demikian, semangat 31 Hari Menulis tak boleh berakhir begitu saja. Ini kali pertama saya ikut program ini. Senang rasanya bisa mengalami waktu-waktu bersemangat menulis, mendapatkan ide tulisan begitu saja, mempublish tulisan-tulisan lama, takut dikejar denda, harus ke warnet malam-malam, menulis ngasal asal tak denda, sampai bingung harus menulis apa. Inilah sensasi ikut 31 Hari Menulis. Tak peduli apakah tulisan saya bisa dibaca dengan enak atau tidak. Saya sudah cukup berprestasi bisa menyelesaikan 31 hari tantangan menulis. Hahaha. Tak lupa ucapan terima kasih harus disampaikan pada Bang Wiro. Dialah admin blog www.31harimenulis.blogspot.com yang selama ini setia menunggui tulisan-tulisan para peserta. Walau terkadang salah rekap, tapi apalah daya Bang Wiro juga manusia. Harap maklum. Saya juga minta maaf apabila s...

Bertemu Teman

Hari ini aku senang sekali. Aku bertemu teman-teman kuliah. Sudah lama aku tidak bertemu mereka. Setelah lulus, rasanya sepi sekali tidak pernah bertemu teman-teman. Kami bertemu di perpus universitas. Kami berbincang ngalor-ngidul seperti biasanya. Tidak terasa hari sudah sore. Kami merasa lapar. Kami ingin makan bersama. Namun di luar hujan turun sangat deras. Kami pun menunggu. Setelah hujan reda, kami pun berangkat ke rumah makan. Aku senang. Semoga aku bisa bertemu mereka lagi.

Terima Kasih dan Maaf

Sempat bertukar pesan dengan salah seorang teman, akhirnya saya mengetahui kabar ini. Kabar bahwa majalah tempat saya bekerja sebagai reporter lepas sudah memutuskan untuk vakum. Entah untuk berapa lama. Majalah anak muda lokal Jogja yang saya ikuti sejak April 2012 lalu. Sayang sekali. Majalah ini muncul di tahun 2010. Sempat berganti-ganti konsep dan segmentasi saat masih berbentuk buletin, akhirnya di akhir tahun 2012 majalah ini berubah bentuk menjadi majalah dengan sasaran pembaca anak SMA. Saya sendiri bekerja sebagai reporter lepas. Setiap sebulan sekali saya mendapat tugas membuat artikel seperti profil komunitas, profil siswa bereprestasi, terkadang artikel tentang gadget, dan lain-lain. Sungguh pengalaman yang sangat berharga dan tidak akan terlupakan. Kepuasan batin bisa membuat suatu tulisan dan dibaca banyak orang (yang ini sebenarnya saya tidak yakin) merupakan kesenangan tersendiri. Bisa pergi meliput konser musik, pentas teater teman-teman SMA Jogja, dan berpusing-pusin...

Lupa Cara Berimajinasi

Dulu, sebelum bapak saya pensiun, saya terkadang mengantarnya pergi bekerja agar saya bisa memakai motornya. Sepanjang perjalanan ke tempat kerjanya, kami harus melewati jalan raya yang di samping kiri dan kanannya adalah persawahan. Tepat di sisi jalan raya ini terdapat parit atau sungai kecil. Di tepi-tepi kali ini banyak ditumbuhi rerumputan liar yang mempunyai bunga-bunga kecil. Walau liar bunga-bunga ini indah-indah. Selama saya dibonceng bapak, saya menikmati pemandangan indah ini. Melihat sawah-sawah dan kali ini saya jadi teringat masa kecil saya. Masa kecil yang penuh imajinasi. Dulu saat masih TK dan SD, apapun bisa jadi imajinasi. Saya melihat sungai-sungai kecil di sawah dekat rumah, saya langsung bisa melamun. Membayangkan saya seorang putri yang punya rumah kerajaan di rerumputan liar sungai itu. Kerajaan penuh bunga liar tapi indah. Kerajaan di tepi sungai besar. Ada lagi. Dulu, saya bermain di halaman rumah yang waktu itu cukup banyak tanaman-tanaman hias dan pohon-poho...

Korban Cinta Segi-entah berapa

Image
Hmm... jangan-jangan mbak dalam foto ini adalah korban cinta segi entah berapa antara mas dan mbak patung-patung Fisipol UGM yang setiap hari rajin belajar di depan kantin kampus. Hahaha. Si 'mbak' korban ini saya temukan sedang murung membaca buku sendirian di depan perpus UNY. Kasihan...

Punya Pekerjaan

Bapak saya bekerja. Ibu saya juga bekerja. Kedua kakak saya sudah bekerja. Teman saya bekerja. Mereka semua bekerja. Bekerja setelah lulus kuliah. Ada yang bekerja sesuai latar pendidikan, ada yang tidak tapi memang disukainya. Mereka semua bekerja, punya pekerjaan. Mendapatkan pekerjaan 'bekerja pada orang' tidaklah mudah ternyata. Persaingan sungguh ketat. Perusahaan besar juga tidak selalu mau menerima fresh graduate begitu saja. Dulu sebelum lulus kuliah, saya sama sekali tidak punya bayangan akan hal ini. Saya pikir setelah lulus akan mudah saja mewujudkan impian menjadi seorang kuli tinta. Kenyataannya? Realitanya sekarang ini memang masih banyak dibutuhkan tenaga untuk menjadi seorang wartawan/jurnalis/reporter. Kesempatan untuk lulusan mahasiswa Komunikasi juga masih tersedia. Namun sekarang ini kebanyakan media cetak terutama majalah yang sudah tersegmentasi lebih khusus lagi seperti properti, pemasaran, otomotif, dan lain-lain mencari reporter dengan kemampuan menulis...