Posts

Cerita Pendek Sekali : Surat untuk Peter

Peter, Kamu pria yang baik. Kamu cerdas. Kamu bisa meraih segalanya dengan kemampuan yang kamu punyai. Sementara aku tidak, Peter. Aku tidak. Aku tidak sepertimu. Aku tak mahir dalam segala hal. Kecuali satu. Aku mahir beromong kosong. Aku mahir dalam hal itu. Sangat mahir. Seperti yang kamu lihat Peter. Aku tidak punya masa depan. Aku hanya punya masa lalu. Aku tak pernah berani menuju masa depan. Aku tidak bisa membuatnya. Aku hidup di masa lalu. Sudah kukatakan tadi. Masa lalu. Peter, Aku tidak punya apa-apa. Masih adakah yang kau harapkan padaku? Mungkin ada, mungkin. Tapi aku tak bisa menjanjikan harapan-harapan itu jadi kenyataan, Peter. Yang aku berikan hanya omong kosong. Ingat kan, Peter? Kau habiskan waktumu dengan omong kosongku. Selama ini. Kau tentu tidak mau, Peter. Kau tidak mau menghabiskan seluruh sisa hidupmu denganku. Kau tidak mau menikahi omong kosongku. Jangan, Peter. Jangan. Peter, Aku mohon... Jangan! --- Kuletakkan surat...

Kalau Nyanyi Jangan Disetir

Pernahkah mengamati ajang-ajang pencarian bakat menyanyi yang disiarkan di televisi? Pernahkah mengamati para kontestan yang lolos babak audisi lebih bagus penampilannya saat audisi daripada saat babak eliminasi? Saya pernah. Hmm...saya menikmati episode-episode tayangan -yang katanya- reality show ini hanya saat babak audisi. Banyak kejadian lucu (tebakan saya sudah disetting tim kreatif) para peserta audisi yang mengundang tawa. Lumayan bisa melepas kepenatan. Walau saya jahat juga, menertawakan orang lain yang diolok-olok juri. Saya juga menikmati peserta-peserta audisi yang bernyanyi dengan suara bagus dan enak didengar. Bahkan suara-suara mereka jauh lebih enak didengar daripada suara juri. Saat babak audisi ini, tiap peserta boleh bernyanyi lagu apapun. Bebas. Genre apapun. Bebas. Lagu milik orang atau lagu ciptaan sendiri. Sesuka hati! Nah, kalau sesuka hati, berarti nyanyinya juga dari hati dong ya? Menyanyikan lagu kesukaanku, jenis musik yang aku suka, pokoknya yang aku s...

Aku Sarjana

Image
Sudah hampir setahun sejak hari kelulusan saya menjadi sarjana. Sarjana Ilmu Politik. Gelar yang didapat setelah menempuh pendidikan selama 4 tahun 3 bulan di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Sarjana Ilmu Politik yang buta soal politik. Ha - ha - ha. Saya tidak peduli. Buka-buka folder foto di komputer, saya menemukan foto lama ini. Foto yang diambil di depan rumah saat hari wisuda, 21 Mei 2013. Bersama ibu dan simbah Wiji (budhe dari ibu) saya berfoto. Foto diambil oleh kakak saya. Kenapa saya tiba-tiba posting ini? Entahlah. Mungkin karena saya sedang kurang kerjaan dan rindu rumah. He...

Pulang Kampung

Image
Desember lalu aku sempat pulang. Pulang ke kampung halaman. Kampung yang masih dirubung sawah-sawah. Kampung yang ketika malam tiba masih dipayungi langit berhias bintang-bintang. Kampung dimana bapak dan  ibuku tinggal, yang tinggal membesarkan 2 anak laki-laki lagi. Kapan ya aku bisa pulang lagi?

Sementara

(sementara) hidup di Jakarta, aku banyak belajar. Aku belajar menjaga kepercayaan orang tua. Ah...sudahlah. Aku belajar waspada. Aku belajar hidup mandiri. Secara finansial. Aku belajar membaca rambu-rambu lalu lintas dan penunjuk jalan. Aku belajar menghafal trayek angkutan umum, seperti metromini dan kopaja. Aku belajar menghemat uang. Ah tidak. Aku selalu gagal mempelajarinya. Aku belajar berteman dengan orang baru. Ini susah. Aku belajar tidak mempercayai begitu saja omongan orang. Apakah ini disebut pelajaran? Aku belajar menghadapi orang-orang ‘bertopeng’ setiap harinya. Aku belajar. Aku belajar menulis lagi.

Terima Kasih 31 Hari Menulis

Ini adalah hari ke-31 program 31 Hari Menulis 2013 buatan anak Komunikasi UGM. Mulai besok tak akan lagi menulis blog dengan label #31HariMenulis. Walaupun demikian, semangat 31 Hari Menulis tak boleh berakhir begitu saja. Ini kali pertama saya ikut program ini. Senang rasanya bisa mengalami waktu-waktu bersemangat menulis, mendapatkan ide tulisan begitu saja, mempublish tulisan-tulisan lama, takut dikejar denda, harus ke warnet malam-malam, menulis ngasal asal tak denda, sampai bingung harus menulis apa. Inilah sensasi ikut 31 Hari Menulis. Tak peduli apakah tulisan saya bisa dibaca dengan enak atau tidak. Saya sudah cukup berprestasi bisa menyelesaikan 31 hari tantangan menulis. Hahaha. Tak lupa ucapan terima kasih harus disampaikan pada Bang Wiro. Dialah admin blog www.31harimenulis.blogspot.com yang selama ini setia menunggui tulisan-tulisan para peserta. Walau terkadang salah rekap, tapi apalah daya Bang Wiro juga manusia. Harap maklum. Saya juga minta maaf apabila s...

Bertemu Teman

Hari ini aku senang sekali. Aku bertemu teman-teman kuliah. Sudah lama aku tidak bertemu mereka. Setelah lulus, rasanya sepi sekali tidak pernah bertemu teman-teman. Kami bertemu di perpus universitas. Kami berbincang ngalor-ngidul seperti biasanya. Tidak terasa hari sudah sore. Kami merasa lapar. Kami ingin makan bersama. Namun di luar hujan turun sangat deras. Kami pun menunggu. Setelah hujan reda, kami pun berangkat ke rumah makan. Aku senang. Semoga aku bisa bertemu mereka lagi.