Posts

Onar (Bagian 1)

Aku mengingat-ingat kembali bagaimana pertemuanku dengan seorang anak lali-laki ojek payung tempo hari. Waktu itu hujan turun begitu deras saat aku sampai di stasiun Tanah Abang. Aku lupa membawa payung atau jas hujan. Tak mungkin aku menunggu hujan reda. Masih banyak kerjaan menunggu. Kupanggil satu ojek payung. Bocah laki-laki berkaus biru nan usang menyahut. Umurnya sekitar 10 tahunan. Rambutnya pirang kemerahan. Tubuhnya agak kurus. Walau basah kuyup dan sedikit menggigil, ia tetap mencoba tersenyum. Kuraih payung hitam miliknya. Aku berjalan cepat agar segera sampai di pinggir jalan raya, mencari bajaj. "Berapa ongkosnya dek?," tanyaku setelah mendapat bajaj. "Seikhlasnya bu," jawabnya. Kukeluarkan selembar uang 20 ribuan. Pikiranku melayang, seharusnya saat ini ia sedang duduk di ruang kelas, belajar bersama teman-temannya. Bukan malah ngojek payung. "Wah makasih bu, hati-hati bu," katanya dengan wajah sumringah. Entah mengapa memori pertemuank...

Pelajaran Kecil untuk Anakku

Sebelum anakku tidur malam, aku atau suami membacakan satu atau dua buku cerita. Ritual ini sudah kami mulai sejak dia berumur 1 tahun. Dulu, baca ya tinggal baca saja isi bukunya. Lalu aku tersadar, bahwa sejak kecil, anak harus dibiasakan tahu siapa penulis buku yang ia baca. Tujuannya agar anak bisa mengapresiasi penulis dan karyanya. Penulis dan karyanya adalah satu kesatuan. Ya minimal anakku tahu, siapa dibalik cerita favoritnya sebelum tidur. Sejak 2 bulan terakhir, aku membacakan secara lengkap. Judul, diikuti nama penulis dan lanjut ke isi cerita. Efeknya? Sekarang setiap mulai menyebut judul, anakku langsung menimpali dengan pertanyaan: "Yang nulis siapa?" Ini remeh. Tapi buatku sangat menyenangkan. Anakku jadi tertarik untuk tahu siapa yang menulis. Walaupun setelah buku selesai dibaca, dia akan lupa dan bertanya lagi setiap baca buku di lain waktu. Hahaha. Senang bisa memberi pelajaran kecil untuk anakku. Semoga kamu tetap rajin membaca buku s...

Top 3 Konten Anak Selama Pandemi

Setelah menjadi ibu, banyak hal berubah. Tak lagi hapal lirik lagu-lagu lama kesukaan, tapi lanyah lagu anak-anak. Tak lagi sering mencari referensi channel youtube seru, tapi malah kartun-kartun lucu. Apalagi selama bekerja dari rumah karena pandemi. Banyak waktu dihabiskan bersama anak, jadilah makin sering menemukan konten anak-anak. Ini dia konten anak-anak yang sedang digandrungi anakku beberapa hari terakhir. Cekidot! 1. BabyBus Kartun ini tayang di Youtube dengan channel BabyBus. Karakter dalam kartun adalah si bayi panda dan kawan-kawannya. Kontennya menyuguhkan cerita fiksi/imajinatif dan seputar kehidupan sehari-hari. Kontennya cukup bagus. Mengandung pesan moral tapi tetap menghibur. 2. Pororo the Little Penguin Pororo the Little Penguin juga menyajikan kisah fiksi keseharian geng Pinguin dan kawan-kawan yang hidup di kutub. Cerita lucunya mampu membuat anakku tersenyum-senyum dan tertawa sendiri saat menontonnya. 3. Zool Babies Series Kartun dar...

Intip 5 Resto Andalan di BSD Barat saat Pandemi

Sudah hampir satu setengah bulan aku dan suami bekerja dari rumah karena pandemi Covid-19. Tentu kami jadi lebih banyak makan di rumah. Kadang rajin masak, kadang malas. Banyak malasnya sih. Aku bersyukur masih ada restoran dan ojek online yang beroperasi. Kalau kami bosan masak, tinggal pesan layanan antar makanan. Oh ya, kami tinggal di daerah Bumi Serpong Damai bagian barat. Ya, sudah masuk wilayah Cisauk dan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Daerah sini juga lumayan dekat dengan sebuah mal ternama di BSD. Keuntungannya, urusan perut masih terjaga. Selama pandemi, ini dia 5 resto andalan penyelamat perut di seputaran BSD Barat. 1. Bakmi Ayam Asoei - Pasar Modern Intermoda BSD Awalnya kami kira di restoran ini hanya menjual bakmi dengan topping ayam. Ternyata setelah kulik-kulik, ada topping babi juga. Ternyata lebih enak bakmi campur ( topping babi)! Bakmi ini jadi favorit suamiku. Ndak pernah bosan! 2. Warung Ce - Ruko South Goldfinch Wah, resto dengan masakan anda...

Aku dan Kehidupanku Sehari Ini

Image
Pagi ini, aku bangun kesiangan. Ketika aku bangun, anakku sudah wangi, sehabis dimandikan bapaknya. Karena dia pasti belum sarapan, bergegas ku beranjak dari kasur menuju dapur. Kubuatkan telur dadar, untuk dimakan bersama nasi hangat sisa kemarin. Setelah matang, aku suapi anakku. Karena (agaknya) didikanku yang salah, dia makan sambil menonton video-video anak-anak. Kalau ndak gini, ndak mangap e . Kurang lebih setengah jam, akhirnya makan pun habis. Kuberikan dia susu UHT, dengan harapan bisa nambah gizi dan berat badannya. Rupanya suamiku lapar. Minta makan. Aku pun. Aku lihat daftar restoran di aplikasi pesan antar makanan. Restoran favorit belum buka. Kami tahan rasa lapar itu sampai waktunya tiba. Pukul 10.30 WIB datang juga. Kupesan nasi lauk sei dan babi panggang idola kami di wilayah ini. Klik, klik, klik. Kami menunggu dengan sabar. Sambil menunggu makanan datang, aku menjemur pakaian di halaman belakang. Ditemani anak batita yang bermain hanger baju dan kamera...

Kita Gagal Piknik, Mas.

Mas, kini kamu akan kembali ke Yogyakarta. Meninggalkan ibukota, menuju rumah dan kampung halamanmu. Bekerja di sana. Sedangkan aku belum tahu. Sama sepertimu, aku pun sudah resign dari perusahaan tempat ku bekerja selama ini. Namun belum lagi ku dapat pekerjaan baru. Lalu, setahun kemarin kita bersama di Jakarta, kita ngapain saja ya? 3 tahun kamu tinggal dan bekerja di Jakarta, Mas. Sedangkan aku setahun. Kita ketemu setiap sabtu dan minggu. Kadang-kadang mencuri waktu di hari-hari selain itu. Sering kita habiskan waktu melepas rindu dengan bertengkar. Buang-buang waktu, katamu. Benar. Kita membuang waktu berharga yang sebenarnya bisa digunakan untuk PIKNIK. YA, PIKNIK. Aku perlu sekali menulis kata tersebut dengan HURUF KAPITAL. Hahaha. Mungkin kita lelah, mas. Malah kita bertengkar. Padahal yang kita butuhkan adalah piknik. Piknik kemana saja, tak perlu mahal. Hah. Sekadar membaca buku di Taman Suropati saja tak bisa kita lakukan. Menguji adrenalin di Dun...

Percakapan #2: Revolusi Mental

Di suatu pagi, saat aku menikmati liburan lebaranku di rumah dengan bermalas-malasan bangun pagi... Ibu : "Tangi nok  (bangun nak)" Aku : "Oh wis jam 11 to (Oh sudah jam 11 ya)" Ibu : "Jare meh revolusi mental (Katanya mau revolusi mental)" Aku : "...." Lalu aku pun bangun dari tempat tidurku...